Penerjemah Manusia vs Mesin Kecerdasan Buatan
Penerjemah Manusia vs Mesin Kecerdasan Buatan

Akankah Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Mampu Menggantikan Profesi Penerjemah?

Di dunia teknologi yang berkembang dengan sangat pesat ini, manusia telah menciptakan banyak model kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kecepatan yang cukup mengerikan. Tidak tanggung-tanggung, banyak peran manusia yang digeser dan digantikan oleh mesin, banyak profesi yang terancam punah.

Di dunia penerjemahan, ada banyak mesin kecerdasan buatan yang dikembangkan. Salah satu yang paling terkenal adalah Google Translate. Beberapa tahun yang lalu, Google Translate mungkin tidak dapat diandalkan. Namun saat ini, Google Translate sudah berkembang dan sudah dapat mulai diandalkan.

Lantas, apakah mesin dapat menggantikan profesi penerjemah?

Kami percaya bahwa penerjemah manusia tidak akan dapat digantikan sepenuhnya oleh mesin. Mesin bisa saja memiliki kosakata yang lebih luas dibanding manusia, karena secara langsung terhubung dengan internet. Apabila takaran seorang penerjemah diukur hanya dari luasnya pengetahuan akan kosakata, maka mesin merupakan penerjemah terbaik.

Akan tetapi, sayangnya, penerjemahan bukan hanya sekedar tentang susunan kosakata. Ada konteks, gaya, nada, suasana, budaya, emosi, makna, pesan, dan berbagai elemen lain yang terkandung didalam sebuah tulisan.

Untuk dapat menerjemahkan sebuah tulisan dengan baik, seorang penerjemah harus benar-benar memahami tulisan tersebut dari sudut pandang si penulis. Apa gaya tulisan yang digunakan oleh si penulis? Lebih ke "saya dan anda" atau "gue dan elo"? Apa pesan tersirat yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si penulis? Bagaimana suasana hati si penulis saat sedang menulis buku ini? Apakah sedang senang, sedih, marah atau cemas? Aspek budaya juga tidak kalah sulit. Lelucon, candaan, plesetan, dan banyak hal lainnya yang tidak dapat dipahami oleh mesin.

Disinilah pentingnya peran penerjemah, peran sentuhan manusia, yaitu untuk memastikan bahwa pesan-pesan yang terkandung dapat tersampaikan dengan baik ke pembaca. Karena pembaca adalah manusia.

Sehingga menurut saya, peran Kecerdasan Buatan ini akan sangat membantu penerjemah dalam meningkatkan kapasitas dan produktivitas penerjemah sebagai alat pendukung ketimbang malah menghapuskan profesi penerjemah.

Lalu, apa sebaiknya yang dilakukan penerjemah agar fungsinya tidak tergeser oleh mesin? Belajarlah menjadi manusia seutuhnya yang mampu memahami hal-hal manusiawi yang tak dapat dituliskan dalam kode.